
Perbanyaklah menziarahi generasi awal ummat ini. Engkau akan temukan sebuah kerinduan yang ‘aneh’. Kerinduan pada malam. Secara khusus kerinduan pada akhir malam. Secara khusus kerinduan pada akhir malam. Suatu saat di mana mereka menuntaskan kerinduan yang bertalu-talu sepanjang hari. Suatu saat di mana mereka menjawab seruan Allah di setiap penghujung malam, “Apakah ada pemohon ampunan yang ingin Aku ampunkan? Apakah ada pemohon pertolongan yang Kuberikan pertolongan?” Suatu saat di mana mereka sungguh-sungguh mencari sumber kekuatan diri menuju Allah.
Perhatikanlah bagaimana ‘Atha ibn Abi Rabah menggambarkan saat-saat itu sebagai “penghidup badan, cahaya hati, penerang wajah, kekuatan yang memancar pada pandangan mata bahkan pada seluruh anggota tubuh. Dahulu bila seorang menghidupkan malamnya, ia akan menyambut pagi dengan riang gembira, ia akan memasuki saat pagi dengan kesedihan yang luar biasa. Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga”.
Begitulah kerinduan pada malam itu menguasai jiwa-jiwa mereka. Kerinduan itu bahkan membawa mereka pada sebuah padang kesedihan bila malam-malam itu akan segera berakhir. Ketika pagi akan menyingsing daam hitungan beberapa saat saja. Dengarkanlah bagaimana Imam Sufyan Ats-Tsaury menyatakan hal ini, “Bila saat malam tiba aku sungguh merasa gembira, dan bila saat pagi tiba sungguh aku merasa sedih.”
Malam-malam itu mengantarkan mereka pada sebuah kedekatan yang dalam kepada Sang Rabbul ‘alamin. Kelezatan munajat yang menggairahkan. Dan itulah saat dimana mereka membangun sebuah jalan indah menuju Surga Allah. “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan dan shalatlah di waktu malam saat semua manusia terlelap, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” Demikian sabda Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam suatu ketika –diriwayatkan oleh At-Tirmidzi-.
Bila suati ketika, mereka terluputkan dari saat malam yang indah itu, mereka segera saja mencurigai dan menuduh diri sendiri sebagai penyebabnya. Seperti kata Al-Hasan Al-Bashry, “Sungguh seseorang itu melakukan dosa yang kemudian menyebabkan ia terhalangi untuk bangun di saat malam.”
Suatu ketika seorang pria menemuinya. “Wahai Abu sa’id –begitu ia dipanggil-! Entah mengapa qiyamullail begitu melelahkanku…”
Maka Al-Hasan Al-Bashry mengatakan padanya, “Wahai saudaraku, mohon ampunlah kepada Allah, bertaubatlah padanya, sebab itu sesungguhnya sebuah tanda keburukan.”
Jadi dugalah apa yang akan dikatakan Al-Hasan Al-Bashry bila melihat jiwa-jiwa kita terlalu lemah untuk itu! Semua karena dosa-dosa yang tak terperikan. Bila sudah demikian adanya, mungkinkah kita dapat menjelma menjadi perindu-perindu malam? Itulah rindu yang membawamu berujung pada surge firdaus.
Sumber :
"Rindu yang Berujung Surga", pengarang Abul Miqdad Al-Madany
penerbit MIRQAT