Kartini Belajar Islam
Informasi sungguh luar biasa pengaruhnya terhadap publik. Buktinya, sosok Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya: Door Duisternis Tot Licht, yang terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Padahal, menurut versi Prof.Dr.Haryati Soebadio (cucu tiri R.A. Kartini), mengartikan Door Duisternis Tot Licht, sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya, yang bahasa Arabnya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur. Kalimat ini merupakan inti dari Panggilan Islam. Maksudnya tidak lain membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang.
Karena berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasanya, sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al Islam Dan mengamalkannya sesuai dengan cita-citanya seperti yang pernah ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny.Van Kol, 21 Juli, 1902, yaitu: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.” Dengan demikian, Kartini sebenarnya ingin menjadi muslimah sejati. Buktinya, seperti diceritakan Asma Karimah (1991), pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Alquran). Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini ke luar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Alquran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini (baca: surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890 dan E.E Abendanon, 15 Agustus 1902). Akhirnya, pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Dan kebetulan saat itu sedang ada pengajian bulanan khusus anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut. Kartini tertarik kepada materi pengajian (baca: tentang tafsir Al-Fatihah) yang disampaikan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari semarang. Setelah selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. “Kyai perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini. Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukaan secara diplomatis itu. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh Kartini pernah terlintas dalam pikirannya. “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Alquran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku…. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran dalam bahasa Jawa. Bukankah Alquran itu justeru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Singkat cerita, Kyai Sholeh Darat pada hari pernikahan Kartini menghadiahkan kepadanya terjemahan Alquran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid I (13 juz: surat Al-Fatihah – surat Ibrahim). Sejak saat itu, mulailah Kartini mempelajari Islam yang sebenarnya. Tapi sayangnya setelah itu Kyai Sholeh meninggal dunia, sehingga Alquran tersebut belum semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Alquran), maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya (termasuk jilbab?).
Kartini dan Muslimah Sejati
Ibu kita kartini
Putri sejati, putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita kartini pembela bangsa
Pembela kaumnya untuk merdeka
Masih ingat lagu kesayangan kita di waktu kecil? Lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa kebanggaan terhadap kontribusi dari kaum perempuan.
Perjuangan seorang Kartini bagaikan mata air di padang pasir, saat kaum perempuan dianggap lemah dan tak berdaya, beliau justru mematahkan semua paradigma terhadap perempuan, membuat dogma baru bahwa perempuan punya hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala hal, yang membedakannya hanya dalam tataran konsep dasar dan hakikat bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki. Sehingga kumpulan tulisannya pun dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Bahagiakah Kartini? Entahlah. Tidak ada yang tahu. Apakah ia puas dengan semua pengorbanannya untuk bangsa ini, karena sekarang kaum perempuan justeru lebih tidak dihargai bahkan oleh perempuan itu sendiri dan berkembang pemikiran yang menyetarakan laki-laki dan perempuan.
Kebanyakan kaum perempuan menilai sama antara feminisme dengan apa yang diperjuangkan oleh seorang Kartini. Begitu banyak perbedaan pendapat tentang hal ini, yang jelas konsep seorang perempuan lembut namun cerdas yang dibawa oleh puteri bupati Jepara ini sekarang sudah mulai tereduksi atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Lagi-lagi HAM.
Benarkah seorang Kartini berjuang untuk kebebasan yang seluas-luasnya bagi kaum perempuan? Saya yakin tidak.
Karena bagi Kartini tidak ada pendiskriminasian terhadap perempuan, bukan berarti perempuan meninggalkan peran dan fungsi sebagi seorang perempuanitu sesuai kodratnya, sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.
Yang jelas sebelum Kartini lahir sudah ada seorang manusia sempurna yang jauh lebih berperan dalam perjuangan untuk mengangkat derajat kaum perempuan, ia bukan seorang perempuan, namun perjuangannya membuktikan betapa Islam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Konsep ini terlihat dari hadis.
Penyebutan ibu tiga kali dan ayah satu kali bukannya tanpa arti, namun tersirat makna bahwa yang lebih diutamakan untuk dihargai adalah ibu, bukan berarti pula tidak menghormati ayah.
Hanya saja, seorang perempuan harus melalui masa-masa berat untuk mendapat sebutan ibu, mulai dari mengandung, melahirkan hingga menyusui dan membesarkan anak. Tak heran jika dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 dikatakan:
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”
Perempuan dan laki-laki memang insan yang berbeda, namun dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perbedaan itu hanya dalam masalah peran dan fungsi saja, bahwa seorang perempuan mempunyai fungsi sebagai : mar’atushsholihah, zaujatu muthi’ah, dan ummul madrasah berbeda dengan laki-laki.
Namun dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan masalah teknis lainnya perempuan dan laki-laki sama asalkan perempuan tidak meninggalkan peran dan fungsinya tadi. Antara perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan derajat tertinggi di mata Allah yaitu taqwa.
Jika Kartini menginginkan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian yang lebih mulia terhadap perempuan, kembalikanlah segala sesuatu kepada Al-Qur’an dan hadis.
Bahwa apapun paham-paham yang berkembang sekarang namun tetaplah menjadi jati diri seorang muslimah, seperti Siti Khadijah yang walaupun seorang saudagar, namun mampu menjalankan perannya sebagi istri dan menjadikannya seorang wanita salehah .. karena setiap muslimah adalah mutiara.
Wallahu’alam bishshowab…
berbagai sumber
www.eramuslim.com
www.miqra.blogspot.com