Rindu yang Berujung Surga

Posted by ldkmtsapp On 4/26/2011 06:57:00 AM

Perbanyaklah menziarahi generasi awal ummat ini. Engkau akan temukan sebuah kerinduan yang ‘aneh’. Kerinduan pada malam. Secara khusus kerinduan pada akhir malam. Secara khusus kerinduan pada akhir malam. Suatu saat di mana mereka menuntaskan kerinduan yang bertalu-talu sepanjang hari. Suatu saat di mana mereka menjawab seruan Allah di setiap penghujung malam, “Apakah ada pemohon ampunan yang ingin Aku ampunkan? Apakah ada pemohon pertolongan yang Kuberikan pertolongan?” Suatu saat di mana mereka sungguh-sungguh mencari sumber kekuatan diri menuju Allah.


Perhatikanlah bagaimana ‘Atha ibn Abi Rabah menggambarkan saat-saat itu sebagai “penghidup badan, cahaya hati, penerang wajah, kekuatan yang memancar pada pandangan mata bahkan pada seluruh anggota tubuh. Dahulu bila seorang menghidupkan malamnya, ia akan menyambut pagi dengan riang gembira, ia akan memasuki saat pagi dengan kesedihan yang luar biasa. Ia seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga”.


Begitulah kerinduan pada malam itu menguasai jiwa-jiwa mereka. Kerinduan itu bahkan membawa mereka pada sebuah padang kesedihan bila malam-malam itu akan segera berakhir. Ketika pagi akan menyingsing daam hitungan beberapa saat saja. Dengarkanlah bagaimana Imam Sufyan Ats-Tsaury menyatakan hal ini, “Bila saat malam tiba aku sungguh merasa gembira, dan bila saat pagi tiba sungguh aku merasa sedih.”


Malam-malam itu mengantarkan mereka pada sebuah kedekatan yang dalam kepada Sang Rabbul ‘alamin. Kelezatan munajat yang menggairahkan. Dan itulah saat dimana mereka membangun sebuah jalan indah menuju Surga Allah. “Wahai sekalian manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan dan shalatlah di waktu malam saat semua manusia terlelap, niscaya kalian akan masuk Surga dengan selamat.” Demikian sabda Nabi Shallahu Alaihi wa Sallam suatu ketika –diriwayatkan oleh At-Tirmidzi-.


Bila suati ketika, mereka terluputkan dari saat malam yang indah itu, mereka segera saja mencurigai dan menuduh diri sendiri sebagai penyebabnya. Seperti kata Al-Hasan Al-Bashry, “Sungguh seseorang itu melakukan dosa yang kemudian menyebabkan ia terhalangi untuk bangun di saat malam.”


Suatu ketika seorang pria menemuinya. “Wahai Abu sa’id –begitu ia dipanggil-! Entah mengapa qiyamullail begitu melelahkanku…”


Maka Al-Hasan Al-Bashry mengatakan padanya, “Wahai saudaraku, mohon ampunlah kepada Allah, bertaubatlah padanya, sebab itu sesungguhnya sebuah tanda keburukan.”


Jadi dugalah apa yang akan dikatakan Al-Hasan Al-Bashry bila melihat jiwa-jiwa kita terlalu lemah untuk itu! Semua karena dosa-dosa yang tak terperikan. Bila sudah demikian adanya, mungkinkah kita dapat menjelma menjadi perindu-perindu malam? Itulah rindu yang membawamu berujung pada surge firdaus.


Sumber :

"Rindu yang Berujung Surga", pengarang Abul Miqdad Al-Madany

penerbit MIRQAT


Beberapa sahabat seperti Ahnaf bin Qais At-Tamimi memahami kebijakan Ali bin Abi Thalib. Menurutnya, pembunuhan terhadap Utsman jelas perbuatan jahat yang harus ditindak. Tetapi, suasana eksplosif saat itu sangat tidak memungkinkan bagi Khalifah Ali untuk mengambil tindakan tegas. Pada saat yang sama, Ahnaf mencium adanya gelagat orang ketiga yang menghendaki terjadinya pertikaian.


Atas dasar itu, ia berusaha mencegah agar tidak terjadi pertempuran. Namun usahanya gagal. Di akhir negosiasinya dengan Ali bin Abi Thalib ia sempat memberikan pilihan. “Aku berperang di pihakmu atau aku mencegah 10.000 pedang tertuju padamu?” tanya Ahnaf.


Menghadapi tawaran itu, dengan bijak Khalifah Ali menjawab, “Cegahlah 10.000 pedang terhadapku.”


Dengan jawaban itu, Ahnaf memutuskan untuk menjauhkan diri bersama 10.000 pasukannya. Ia tidak sampai hati menghadapkan senjata terhadap Ummul Mukminin, Aisyah. Sebaliknya, Aisyah juga tidak mungkin mengangkat senjata untuk memerangi sepupu Rasulullah Saw, Ali bin Abi Thalib.


Namun sejarah harus mencatat, puncak kemelut itu harus melahirkan tragedi kelam, Perang Jamal (Perang Onta). Dinamakan demikian karena Aisyah mengendarai onta. Peperangan berakhir dengan kemenangan di pihak Ali. Thalhah bin Ubaidillah yang berada di pihak Aisyah berhasil meloloskan diri ke Basrah, tetapi akibat luka parah yang dideritanya, ia pun wafat. Zubair bin Awwam yang juga berada di pihak Aisyah gugur. Sedangkan Aisyah tertawan, dan hanya satu hari kemudian ia dibebaskan dan dikembalikan ke Makkah dengan diantar langsung oleh saudaranya, Muhammad bin Abu Bakar.


Sementara itu, ketidakpuasan terhadap Ali yang belum menuntaskan kasus pembunuhan Utsman, melahirkan gejolak baru di daerah Syria (Suriah). Pertentangan politik antara Ali dan Muawiyah mengakibatkan pecahnya Perang Shiffin (37 H). Pasukan Ali yang berjumlah sekitar 95.000 orang melawan 85.000 pasukan Muawiyah. Ketika peperangan hampir berakhir, pasukan Ali berhasil mendesak lawannya. Namun sebelum peperangan dimenangkan, muncul Amr bin Ash mengangkat mushaf Al-Qur’an menyatakan damai. “Mari kita bertahkim (berhukum) dengan kitab Allah,” seru Amr.


Khalifah Ali tak bisa berkutik, dan terpaksa menghentikan peperangan. Ali bin Abi Thalib memang seorang militer sejati. Ia berhasil memenangkan Perang Jamal, juga berhasil mengatasi pasukan Muawiyah dalam Perang Shiffin. Namun ia bukanlah seorang negarawan seperti Rasulullah dan para khalifah sebelumnya. Kemampuannya berdiplomasi, kadangkala tak sebanding dengan apa yang dimiliki Amr bin Ash. Kedigdayaan Muawiyah dalam berpolitik, kadang juga tak sanggup ia taklukkan.


Akibat tindakan Ali yang menghentikan serangan, pasukannya pecah menjadi tiga bagian. Yaitu kelompok Syiah yang dengan segala resiko dan pemahaman mereka tetap mendukungnya. Kelompok Murji’ah yang menyatakan mengundurkan diri. Dan kelompok Khawarij yang memisahkan diri serta menyatakan tidak senang dengan tindakan Ali.


Kelompok ketiga inilah yang akhirnya memberontak, dan menyatakan ketidaksetujuannya dengan Ali sebagai khalifah, Muawiyah sebagai penguasa Syria, dan Amr bin Ash sebagai penguasa Mesir. Mereka berencana membunuh ketiga pemimpin itu secara bersamaan.


Untuk mewujudkan rencana itu, mereka menyuruh Abdurrahman bin Muljam untuk membunuh Ali bin Abi Thalib di Kufah. Amr bin Bakar bertugas membunuh Amr bin Ash di Mesir. Hujaj bin Abdillah ditugaskan membunuh Muawiyah di Damaskus. Ketiganya sepakat untuk membunuh para sahabat itu pada waktu yang sama, yaitu 17 Ramadhan 40 H.



Hujaj tidak berhasil membunuh Muawiyah lantaran dijaga ketat oleh pengawal. Bahkan ia sendiri tertangkap dan dihukum mati. Sedangkan Amr bin Bakar tanpa sengaja membunuh Kharijah bin Habitat yang dikiranya Amr bin Ash. Saat itu Amar bin Ash sedang sakit sehingga yang menggantikannya sebagai imam adalah Kharijah. Akibat perbuatannya membunuh Kharijah dan bermaksud menghabisi Amr, orang Khawarij itu dihukum bunuh.



Adapun Abdurrahman bin Muljam tidak mendapat kesulitan melaksanakan tugasnya. Sebab, Khalifah Ali tak pernah mempunyai pengawal pribadi. Ia hidup seperti rakyat biasa. Pagi itu ketika sedang menuju Masjid Agung di Kufah, ia diserang Abdurrahman bin Muljam. Akibat luka parah yang dideritanya, Khalifah Ali meninggal pada 19 Ramadhan 40 H dalam usia 63 tahun. Syahidnya Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya era Khulafaur Rasyidin.



www.republika.co.id

Dia adalah khalifah keempat dari Khulafaur Rasyidin. Ayahnya Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hisyam bin Abdi Manaf. Ibunya Fathimah binti Asad binti Hasyim bin Abdi Manaf. Jadi, baik dari pihak ayah maupun ibunya, Ali adalah keturunan Bani Hasyim. Untuk meringankan beban Abu Thalib yang kala itu mempunyai anak yang lumayan banyak, Rasulullah Saw mengasuh Ali. Selanjutnya, Ali tinggal bersama di rumah Nabi dan mendapatkan pengajaran langsung dari beliau. Ali dilahirkan dalam Ka’bah, 23 tahun sebelum Hijrah, dan mempunyai nama kecil Haidarah. Ia baru menginjak usia sepuluh tahun ketika Rasulullah menerima wahyu yang pertama. Sejak kecil Ali telah menunjukkan pemikirannya yang kritis dan brilian. Kesederhanaan, kerendah-hatian, ketenangan dan kecerdasan dari kehidupan Ali yang bersumber dari Al-Qur’an dan wawasan yang luas, membuatnya menempati posisi istimewa di antara para sahabat Rasulullah Saw lainnya. Kedekatan Ali dengan keluarga Rasulullah semakin erat ketika ia menikah dengan putri bungsu beliau, Fathimah. Ketika Rasulullah Saw masih hidup, Ali bin Abi Thalib telah memberikan ‘saham’ terbesar demi tersebarnya Islam. Di antara sumbangan terbesar itu adalah kesediaannya menggantikan Rasulullah Saw tidur di kamarnya untuk mengelabui para pengepung yang ingin membunuh Rasulullah. Dengan resiko apapun, termasuk kemungkinan dibunuh, Ali bersedia menanggung akibatnya. Dengan cara itu, Rasulullah dan Abu Bakar aman bersembunyi di Gua Tsur selama beberapa hari, dan selanjutnya meneruskan hijrah ke Madinah. Itu bukan satu-satunya bukti keberanian Ali. Ketika Perang Badar akan meletus, kaum Quraisy mengeluarkan tiga jagoan perangnya; Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah dan Walid bin Utbah. Dengan segala keberaniannya, Ali bin Abi Thalib, Ubaidah bin Harits dan Hamzah bin Abdul Muthalib, maju ke medan laga untuk menerima tantangan perang tanding dari pihak Quraisy. Dan tanpa kesulitan yang berarti ia berhasil membunuh Walid bin Utbah, musuhnya. Hamzah juga berhasil membunuh Syaibah. Sedangkan Ubaidah terputus kakinya disambar senjata Utbah. Ali dan Hamzah segera melompat menyerang Utbah, sehingga ia tewas di tangan dua jagoan Islam itu. Adapun Ubaidah hanya mampu bertahan sekitar empat atau lima hari setelah Perang Badar. Ia pun syahid di daerah Shafra’. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar dan Utsman, ia terus menyertai tiga khalifah itu meneruskan dakwah Rasulullah. Ketika Utsman bin Affan syahid di tangan para pembunuhnya, kursi kekhalifahan kosong selama dua atau tiga hari. Banyak orang, khususnya mereka yang berada di Madinah kala itu, mendesak Ali untuk menggantikan posisi Utsman. Ketika para sahabat Rasulullah Saw meminta, dengan sangat terpaksa Ali menerima jabatan sebagai khalifah yang keempat. Sepeninggal Utsman, Ali bin Abi Thalib menanggung beban yang cukup berat. Di satu pihak, ia harus membersihkan para ‘penjilat’ yang selama ini memengaruhi Utsman. Di satu sisi, ia juga harus mengusut tuntas kasus pembunuhan khalifah Utsman. Khalifah Ali benar-benar dihadapkan pada permasalahan besar. Yang ia hadapi saat itu bukan musuh kuat yang bisa dikalahkan dengan tajamnya pedang. Bukan pula pasukan besar yang bisa ditaklukkan dengan strategi jitu. Tetapi benar-benar permasalahan pelik. Di tengah permasalahan itu, akhirnya Ali memutuskan untuk memulai penataan pemerintahan baru yang bermasa depan cerah. Namun usahanya membuat penyegaran di pemerintahan dengan memberhentikan seluruh gubernur yang pernah diangkat Utsman, malah memicu konflik baru. Menghadapi kebijakan itu, ada beberapa sahabat yang dengan legowo mengundurkan diri dari pentas politik seperti Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar. Namun ada juga di antara mereka yang tetap bersikukuh meminta Ali untuk mendahulukan penuntasan kasus pembunuhan Utsman. Suatu keharusan yang saat itu sangat sulit dilakukan oleh Ali lantaran di antara para pembunuh itu justru masih bercokol di kota Madinah.

sumber www.republika.co.id

Kartini dan Muslimah Sejati

Posted by ldkmtsapp On 4/21/2011 08:07:00 AM


Kartini Belajar Islam

Informasi sungguh luar biasa pengaruhnya terhadap publik. Buktinya, sosok Kartini tidak dapat diartikan lain kecuali sesuai dengan apa yang tersirat dalam kumpulan suratnya: Door Duisternis Tot Licht, yang terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang.
Padahal, menurut versi Prof.Dr.Haryati Soebadio (cucu tiri R.A. Kartini), mengartikan Door Duisternis Tot Licht, sebagai Dari Gelap Menuju Cahaya, yang bahasa Arabnya Minazh-Zhulumaati Ilan-Nuur. Kalimat ini merupakan inti dari Panggilan Islam. Maksudnya tidak lain membawa manusia dari kegelapan (kejahiliyahan atau kebodohan hidayah) ke tempat yang terang benderang.
Karena berada dalam proses dari kegelapan menuju cahaya. Tapi cahaya itu belum sempurna menyinarinya secara terang benderang, karena terhalang oleh atmosfir tradisi dan usaha westernisasi. Kartini kembali kepada Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasanya, sebelum ia menyelesaikan usahanya untuk mempelajari Al Islam Dan mengamalkannya sesuai dengan cita-citanya seperti yang pernah ditulis Kartini dalam suratnya kepada Ny.Van Kol, 21 Juli, 1902, yaitu: “Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai.”
Dengan demikian, Kartini sebenarnya ingin menjadi muslimah sejati. Buktinya, seperti diceritakan Asma Karimah (1991), pada masa kecilnya, Kartini mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan ketika belajar mengaji (membaca Alquran). Ibu guru mengajinya memarahi dia dan menyuruh Kartini ke luar ruangan ketika Kartini menanyakan makna dari kata-kata Alquran yang diajarkan kepadanya untuk membacanya. Sejak saat itu timbullah penolakan pada diri Kartini (baca: surat Kartini kepada Stella, 6 November 1890 dan E.E Abendanon, 15 Agustus 1902). Akhirnya, pada suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang bupati di Demak (Pangeran Ario Hadiningrat). Dan kebetulan saat itu sedang ada pengajian bulanan khusus anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian tersebut. Kartini tertarik kepada materi pengajian (baca: tentang tafsir Al-Fatihah) yang disampaikan Kyai Haji Muhammad Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari semarang. Setelah selesai acara pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia menemani dia untuk menemui Kyai Sholeh Darat. “Kyai perkenankanlah saya menanyakan, bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu namun dia menyembunyikan ilmunya?” tanya Kartini.

Tertegun Kyai Sholeh Darat mendengar pertanyaan Kartini yang diajukaan secara diplomatis itu. “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?” Kyai Sholeh Darat balik bertanya, sambil berpikir kalau saja apa yang dimaksud oleh Kartini pernah terlintas dalam pikirannya. “Kyai, selama hidupku baru kali ini aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk Alquran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku…. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Alquran dalam bahasa Jawa. Bukankah Alquran itu justeru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Singkat cerita, Kyai Sholeh Darat pada hari pernikahan Kartini menghadiahkan kepadanya terjemahan Alquran (Faizhur Rohman Fit Tafsiril Quran), jilid I (13 juz: surat Al-Fatihah – surat Ibrahim). Sejak saat itu, mulailah Kartini mempelajari Islam yang sebenarnya. Tapi sayangnya setelah itu Kyai Sholeh meninggal dunia, sehingga Alquran tersebut belum semuanya diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa. Kalau saja Kartini sempat mempelajari keseluruhan ajaran Islam (Alquran), maka tidak mustahil ia akan menerapkan semaksimal mungkin semua hal yang dituntut Islam terhadap kemuslimahannya (termasuk jilbab?).


Kartini dan Muslimah Sejati

Ibu kita kartini
Putri sejati, putri Indonesia, harum namanya
Ibu kita kartini pembela bangsa
Pembela kaumnya untuk merdeka

Masih ingat lagu kesayangan kita di waktu kecil? Lagu yang membangkitkan semangat nasionalisme dan rasa kebanggaan terhadap kontribusi dari kaum perempuan.

Perjuangan seorang Kartini bagaikan mata air di padang pasir, saat kaum perempuan dianggap lemah dan tak berdaya, beliau justru mematahkan semua paradigma terhadap perempuan, membuat dogma baru bahwa perempuan punya hak yang sama dengan kaum laki-laki dalam segala hal, yang membedakannya hanya dalam tataran konsep dasar dan hakikat bahwa perempuan berbeda dengan laki-laki. Sehingga kumpulan tulisannya pun dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Bahagiakah Kartini? Entahlah. Tidak ada yang tahu. Apakah ia puas dengan semua pengorbanannya untuk bangsa ini, karena sekarang kaum perempuan justeru lebih tidak dihargai bahkan oleh perempuan itu sendiri dan berkembang pemikiran yang menyetarakan laki-laki dan perempuan.

Kebanyakan kaum perempuan menilai sama antara feminisme dengan apa yang diperjuangkan oleh seorang Kartini. Begitu banyak perbedaan pendapat tentang hal ini, yang jelas konsep seorang perempuan lembut namun cerdas yang dibawa oleh puteri bupati Jepara ini sekarang sudah mulai tereduksi atas nama Hak Asasi Manusia (HAM). Lagi-lagi HAM.

Benarkah seorang Kartini berjuang untuk kebebasan yang seluas-luasnya bagi kaum perempuan? Saya yakin tidak.

Karena bagi Kartini tidak ada pendiskriminasian terhadap perempuan, bukan berarti perempuan meninggalkan peran dan fungsi sebagi seorang perempuanitu sesuai kodratnya, sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu bagi anak-anaknya.

Yang jelas sebelum Kartini lahir sudah ada seorang manusia sempurna yang jauh lebih berperan dalam perjuangan untuk mengangkat derajat kaum perempuan, ia bukan seorang perempuan, namun perjuangannya membuktikan betapa Islam menghargai dan memuliakan seorang perempuan. Konsep ini terlihat dari hadis.

Penyebutan ibu tiga kali dan ayah satu kali bukannya tanpa arti, namun tersirat makna bahwa yang lebih diutamakan untuk dihargai adalah ibu, bukan berarti pula tidak menghormati ayah.

Hanya saja, seorang perempuan harus melalui masa-masa berat untuk mendapat sebutan ibu, mulai dari mengandung, melahirkan hingga menyusui dan membesarkan anak. Tak heran jika dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 14 dikatakan:

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”

Perempuan dan laki-laki memang insan yang berbeda, namun dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perbedaan itu hanya dalam masalah peran dan fungsi saja, bahwa seorang perempuan mempunyai fungsi sebagai : mar’atushsholihah, zaujatu muthi’ah, dan ummul madrasah berbeda dengan laki-laki.

Namun dalam masalah pendidikan, pekerjaan dan masalah teknis lainnya perempuan dan laki-laki sama asalkan perempuan tidak meninggalkan peran dan fungsinya tadi. Antara perempuan dan laki-laki mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan derajat tertinggi di mata Allah yaitu taqwa.

Jika Kartini menginginkan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan, maka Islam jauh mempunyai impian yang lebih mulia terhadap perempuan, kembalikanlah segala sesuatu kepada Al-Qur’an dan hadis.

Bahwa apapun paham-paham yang berkembang sekarang namun tetaplah menjadi jati diri seorang muslimah, seperti Siti Khadijah yang walaupun seorang saudagar, namun mampu menjalankan perannya sebagi istri dan menjadikannya seorang wanita salehah .. karena setiap muslimah adalah mutiara.
Wallahu’alam bishshowab…


berbagai sumber

www.eramuslim.com

www.miqra.blogspot.com




Belajar jadi Muslim Mandiri dan akan terus mandiri........

Posted by ldkmtsapp On 4/16/2011 09:52:00 PM

Oleh : Syauqie Fathra


Mandiri adalah sumber percaya diri... Mandiri membuat kita lebih tentram diri,. Bangsa mandiri adalah bangsa yang akan memiliki harga diri.. Bukan kah begitu??

Dan orang-orang yang terlatih menghadapi masalah sendiri akan berbeda semangatnya dalam mengarungi hidup ini dibanding dengan orang yang selalu bersandar kepada orang lain.. (???)


Menikmati hidup dengan membebani orang lain adalah hidup yang tidak mulia...

Kemampuan kita mandiri untuk mengarungi hidup ini merupakan kunci yang diberikan oleh Allah untuk sukses dunia dan insya Allah akhirat kelak.. amiin...
Manusia itu tidak memiliki apa-apa kecuali yang Allah titipkan...Bergantung kepada manusia hanya akan menyiksa diri karena dia juga belum tentu mampu menolong dirinya...

Kemandirian itu hanya milik pemberani... Orang yang bermental mandiri, tidak akan menganggap kesulitan sebagai kesulitan, tetapi sebagai tantangan dan peluang... Dari tantangan dan pluang itu akan melahirkan pribadi-pribadi yang menakjubkan,, mulai dari pribadi kreatif, inovatif, dan pribadi tif-tif lainnya.... :D



Marilah kita hindari merasa nikmat dengan mendapatkan sesuatu... Akan tetapi, nikmatilah diri kita ketika memberikan sesuatu,, sama halnya dengan motivasi dakwah yang diberikan oleh sahabat saya "Apa yang sudah anda berikan untuk dakwah??" pertanyaan yang biasa aja,, tapi sulit untuk di jawab,, karena perlu kata kunci agar bisa menjawab pertanyaan itu??>> apa ya??


"SABAR & IKHLAS"

Setidaknya ada tiga hal yang memerlukan kesabara dalam hidup. Pertama, sabar saat berkeinginan. Kedua, sabar berproses. Ketiga, sabar ketika telah mendapat hasilnya...
Dan Bismillah... ke-ikhlas-an itu bukan sesuatu yang harus di lafazkan bahkan harus di-apresiasikan... (bukankan begitu??)

Kesabaran, kesungguhan dan keilmuan yang benar adalah modal terbesar dalam perubahan pribadi seseorang.,

Waktu pun Beranjak

Posted by ldkmtsapp On 4/16/2011 08:32:00 AM

By : Ubaidillah Al-Farabi


Angin yang runtuh...
Dahan yang kering...
Akar yang gersang...
Tak menafikkan akan raut masa yang hendak memudar...
Gelimang tangis, suka, canda, dan tawa...
Telah menghias hari dengan penuh arti...
Alampun mulai bertanya, hendak apakah gerangan hari kan tertuju...
Kesia-siaankah, kegalauankah, bahkan kebahagiaankah...
Hanya kesadaran diri yang dapat mengungkap...

Hendak kemanakah langkah...

Titah alam pun bertutur tak kan bisa kembali setelah waktu bergulir tanpa tersadari...
Penyesalan tak mengungkap arti apa-apa...
Akan tetapi peralihanlah yang dapat merubah semua..
Dengan deru hati yang beritikat dan siap mengahalau rintang yang tlah membentang...

Laju akan asa bertutur tapi tak berperih...
hanyut air terseragam rapi menuju arah yang pasti...
bermuara dalam lautan abadi yang berkerumun mutiara hati...
letih kaki tertatih namun tak memupus harapan yang suci...
Curam tebing sembilu membalut dan menghadang bak rajut jeruji yang mengekang...
Aduhai itu hanya gertakan alam...
Cemangat yang berkobar telah memutih bak sinar rembulan...
Jalan yang berliku terjal kini terang dan lapang...
Peluh yang tertetes, luka yang tergores...
Telah menuai hikmah dalam tantangan hidup yang berhias halang dan rintang...


Blogroll

a

footerwidget1

About

" Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (QS.Ali-Imran :104)