
Oleh : Ubaidillah Al-Farabi
Wahai dunia, aku marah, aku benci, dan aku sangatlah muak!
Ketika kebiadaban dengan pongahnya berlenggang
Ketika pembantaian tak lagi dapat diredam dengan HAM
Ketika penghinaan dimuliakan atas nama kebebasan
Ketika kemuliaan perempuan terus dikebiri oleh kaum feminis
Ketika penjajahan bersembunyi dibalik ketiak demokrasi
Ketika para penguasa terus berkhianat
Ketika anjing-anjing komperador tak henti menjilat Kapitalisme
Ketika penjarahan bertameng liberalisasi tak kuasa ditolak
Ketika hijaunya bumi tergadai oleh tamaknya industri
Ketika kemiskinan terus diproduksi oleh tatanan neolib
Ketika kelaparan terjadi di lumbung padi
Ketika, ketika dan ketika
Kapitalisme mengubur ummat ini hidup-hidup
Wahai dunia,
Inginku berteriak tak terputus
Atas tercabik-cabiknya negeriku
Inginku menangis tak terhenti
Atas penumpahan darah, perampasan kehormatan dan segala penyiksaan ini
Anak tertindas,kehormatan terampas, pendidikan terhempas dari pencerdasan generasi penerus ummat
Tapi, segala tak terbayar!
Wahai dunia,
Inginku rengkuh ummat disaat yang lain mulai angkuh
Inginku selimuti setiap jiwa yang kedinginan
Inginku naungi setiap jiwa yang terlunta
Inginku suapi setiap jiwa yang kelaparan
Inginku obati setiap jiwa yang terluka
Inginku dekap setiap bayi yang tak berbapak
Inginku tatih setiap jompo yang lemah
Inginku rengkuh segala ketidakberdayaan dengan tanganku
Tapi, letihku tak terobati!
Wahai dunia, kian parahkah kondisimu kini?
Kemanakah kesejahteraan yang selama ini didamba-damba
Apakah penindasan dan pemerkosaan ummat ini yang kau sebut kesejahteraan
Bukan, bukan, dan bukan itu
Wahai dunia yang berkecamuk dalam kemewahan
Aku bukanlah lawan yang sepadan baginya
Aku terlalu payah untuk menambal sulam bobroknya tatananmu kini
Sungguh tak bisa dan takkan pernah bisa
Segala bejat dari akar pengaturannya
Tak cukup reformasi
Kau butuh revolusi
Revolusi Putih yang menjunjung tinggi perbaikan iman dan taqwa ummat masa kini
