By:Ik4one_As5dura
Ada suatu aksioma klasik d
alam peradaban Islam yang diformulasikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, khalifah pertama. Menurut beliau, jika pasar memenangi masjid, maka masjid akan mati. Tapi jika masjid memenangi pasar, maka pasar akan hidup. Maka di antara misi peradaban Islam adalah menjaga agar masjid memenangi pasar, karena itu berarti juga menjaga kehidupan pasar. Misi itu kini kelabu, karena pasar telah memenangi masjid. Pasar-pasar dan mall-malll menjadi tempat peribadatan baru yang dikunjungi setiap malam atau akhir minggu.(dikutip dari buku Salim A. Fillah, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim,Berhala Kupu-Kupu)Masjid adalah simbol peradaban Islam. Jika masjid hidup, maka sekitarnya akan hidup, namun jika sekitarnya lebih hidup dan lebih dipentingkan, masjid akan meredup dan akhirnya mati. Masjid adalah tempat mulia, tempat ibadah umat Islam. Bahkan orang non-muslim pun tahu itu. Salah satu dari mereka pernah menyatakan heran melihat seorang muslim tapi kok tidak pernah terlihat shalat di masjid? Aku pun tersadar, syiar Islam itu sudah redup, bahkan mungkin tidak lama lagi akan mati dalam genggaman sekulerisme dan kapitalisme. Shalat adalah simbol tegaknya pilar Islam, jika umatnya tidak shalat maka hancurlah Islam.
Berhala-berhala sekan berlomba untuk merubah wujudnya agar tampil lebih elegan diputaran zaman. Ada yang tak banyak merubah dirinya seperti penyembahan benda angkasa. Penyembahan bintang dan benda angkasa hanya memindah tempat ibadahnya ke halaman tabloid dan majalah. Ia berganti nama baru: zodiak dan horoskop.
Ada juga yang nyaris sempurna metamorfosisnya. Inilah berhala kupu-kupu. Dunia sedang menyaksikan Da'wah agama paganisme konsumelarisme melalui iklan di televisi. Dan setiap waktu berbondonglah seruan itu menuju tempat-tempat ibadah elegan yang kini menjamur sampai pinggir kota: Mall-mall megah. Tanpa kita sadari pemikiran barat telah memalingkan wajah kita ke kiblat Westernisasi secara halus dan perlahan-lahan.
Berhala-berhala sekan berlomba untuk merubah wujudnya agar tampil lebih elegan diputaran zaman. Ada yang tak banyak merubah dirinya seperti penyembahan benda angkasa. Penyembahan bintang dan benda angkasa hanya memindah tempat ibadahnya ke halaman tabloid dan majalah. Ia berganti nama baru: zodiak dan horoskop.
Ada juga yang nyaris sempurna metamorfosisnya. Inilah berhala kupu-kupu. Dunia sedang menyaksikan Da'wah agama paganisme konsumelarisme melalui iklan di televisi. Dan setiap waktu berbondonglah seruan itu menuju tempat-tempat ibadah elegan yang kini menjamur sampai pinggir kota: Mall-mall megah. Tanpa kita sadari pemikiran barat telah memalingkan wajah kita ke kiblat Westernisasi secara halus dan perlahan-lahan.
Well, menurutku ini sangat kontradiktif dengan salah satu misi jurusan Sistem Informasi yang tertulis ingin “menghasilkan mahasiswa yang bermoral dan beretika.” Bagaimana mereka menerapkan moral ketika agama yang diyakininya mengajarkannya akhlak yang baik tidak dia ikuti? Bagaimana mereka dikatakan beretika saat lingkungannya yang membutuhkan kepeduliannya tidak dia perhatikan? Juga aku mendengar ciri #1 The Winner (sebutan anggota JSI atau GengSI) adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan aku iri melihat persis di seberangnya, tangga menuju lantai dua sedang dibangun. Sedangkan tempat shalat ini seperti tidak diakui lagi sebagai “tangga” menuju kehidupan akhirat mereka yang kekal dan bahagia.
Aku melihatnya sebagai krisis keimanan yang nyata. Jalan materialisme ditempuh dan visi manusia semakin pendek sebatas kehidupan duniawi belaka. Tidak ada sentuhan spiritualisme. Ruh kita semakin kosong. Kebahagiaan diukur dalam banyaknya materi dan emotional rewards, tapi ketika dihadapkan pada kematian yang harus dipersiapkan, mereka terdiam. Apa yang sudah kita persiapkan?
Jadwal shalat pun sering ditunda-tunda, dikalahkan oleh jadwal kuliah. Seakan saat kuliah, kematian tidak akan menghampiri kita.
Statistik menunjukkan mahasiswa, dosen, dan karyawan sebagian besar beragama Islam. Namun jumlah itu tidak sesuai dengan jumlah mereka yang pernah atau sering terlihat shalat di mushalla/masjid dikampus tersebut. Jumlah itu semakin kecil lagi jika menghitung yang cukup sering shalat berjamaah di awal waktu. Aku merinding jika ternyata mereka memilih untuk shalat di rumah atau di ruangannya saja, atau bahkan tidak shalat dikarenakan tidak nyamannya kondisi mushalla ini. Aku merasa bertanggung jawab sebagai seorang muslim untuk menjaga Rumah Allah tapi aku belum punya kekuatan cukup besar dan merasa tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Ketika waktu untuk shalat Maghrib satu jam tiba, sering para penggunanya berbondong-bondong untuk shalat, tapi sayangnya tempatnya tidak cukup hingga perlu tiga hingga lima kali gelombang shalat berjama’ah dilakukan. Mushalla itu butuh dilebarkan juga.
Yang terburuk adalah kejadian hilangnya barang-barang di mushalla. Sangat menyedihkan. Beberapa kali lemari mukena hasil urunan jama’ah raib. Lusinan buku yang seharusnya bisa dibaca hilang. Dan setiap semester mesti ada berita kehilangan tas berisi laptop. Sedih sekali rasanya jika orang yang kehilangan itu tidak mau shalat di mushalla lagi gara-gara kejadian itu. Mungkin sebuah pintu, loker dan kunci bisa membuat para pencuri berpikir dua kali.
Semoga mereka yang membaca moto mushalla yang terpampang di bawah tanda namanya itu menghayati benar: “Negeri ini lebih butuh orang-orang yang bertaqwa daripada sekedar pintar berteknologi.” Dan merupakan salah satu bentuk ketakwaan jika seorang muslim mau memakmurkan masjid-masjid Allah. Membangunnya dan sekali-kali ikut shalat berjama’ah di dalamnya.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah 9 : 18)Semoga kita semua termasuk dari salah satu kriteria orang-orang yang disebut dalam Ayat cinta Allah kepada hambanya diatas. Hanya Allah tujuan kita, Rasulullah Teladan kita, Al-Qur'an Pedoman kita, Jihad adalah jalan juang kita, mati dijalan Allah adalah cita-cita kita tertinggi.
Semangatlah wahai Para Perindu Syurga. Titah perjuangan kecilmu hari ini, adalah bias cahaya peradaban islam dihari esok.