Goresan Pena Peradaban

Posted by ldkmtsapp On 5/27/2011 06:14:00 PM

By:Ik4one_As5dura


Menatap gejolak yang meluap dan menghanguskan serta meluluh lantakkan dunia islam,

ada yang harus dilakukan

Menyimak kedzaliman dan penindasan, yang menimpa dan mencengkeram dunia islam,

ada yang harus dikerjakan

Bukan semata merenung, kemudian meneteskan airmata

Bukan semata menjerit atau bertakbir, namun tiada yang dilakukan

Adalah menyiapkan diri,

menjadi anak panah-anak panah yang siap dilepaskan,

atau peluru-peluru yang siap ditembakkan,

atau tombak-tombak yang siap dilemparkan,

atau pedang-pedang yang siap diayunkan

Menyadari keangkuhan dan kesombongan, yang mengangkangi dan menindas dunia islam,

ada yang harus disiapkan

Keikhlasan diri, kebulatan tekad, kekuatan jasad dan keteguhan materi

Menyikapi kehancuran yang melanda dunia islam, ditengah kelesuan dan tidur panjang umat islam,

langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan.

Bukan semata bicara panjang lebar,

tanpa kerja yang nyata,

atau semata mengungkapkan kebobrokan,

namun dengan penuh ragu dan kecenderungan.

Adalah memantapkan diri,

bahwa selembar jadwal bukan sekedar rencana kosong,

bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan dengan keprihatinan

bahwa kesabaran adalah cambuk untuk menegakkan keadilan

Merenungi langkah yang bila harus dilakukan, untuk masa depan dunia islam,

ada yang harus ditegaskan

Kemantapan diri, kekuatan azam, kemurnian asas, dan kejelasan tujuan.

Cermin Pemimpin Yang Hanif

Posted by ldkmtsapp On 5/27/2011 06:01:00 PM

Suatu masa dalam kepemimpinan Umar, terjadilah Tahun Abu. Masyarakat Arab, mengalami masa paceklik yang berat. Hujan tidak lagi turun. Pepohonan mengering, tidak terhitung hewan yang mati mengenaskan. Tanah tempat berpijak hampir menghitam seperti abu.

Putus asa mendera di mana-mana. Saat itu Umar sang pemimpin menampilkan kepribadian yang sebenar-benar pemimpin. Keadaan rakyat diperhatikannya saksama. Tanggung jawabnya dijalankan sepenuh hati. Setiap hari ia menginstruksikan aparatnya menyembelih onta-onta potong dan menyebarkan pengumuman kepada seluruh rakyat. Berbondong-bondong rakyat datang untuk makan. Semakin pedih hatinya. Saat itu, kecemasan menjadi kian tebal. Dengan hati gentar, lidah kelunya berujar, “Ya Allah, jangan sampai umat Muhammad menemui kehancuran di tangan ini.”

Umar menabukan makan daging, minyak samin, dan susu untuk perutnya sendiri. Bukan apa-apa, ia khawatir makanan untuk rakyatnya berkurang. Ia, si pemberani itu, hanya menyantap sedikit roti dengan minyak zaitun. Akibatnya, perutnya terasa panas dan kepada pembantunya ia berkata “Kurangilah panas minyak itu dengan api”. Minyak pun dimasak, namun perutnya kian bertambah panas dan berbunyi nyaring. Jika sudah demikian, ditabuh perutnya dengan jemari seraya berkata, “Berkeronconglah sesukamu, dan kau akan tetap menjumpai minyak, sampai rakyatku bisa kenyang dan hidup dengan wajar.”

Hampir setiap malam Umar Ibnul Khattab melakukan perjalanan diam-diam. Ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar Ibnul Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.

Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.

“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.

Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.

“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.

Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”

“Apakah ia sakit?”

“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”

Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.

Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”

Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”

Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”

Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.

“Buat apa?”

Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-btu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar Ibnul Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”

Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar Ibnul Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”

Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.

Karena Umar Ibnul Khaththob terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”

Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”

Aslam tertunduk. Ia masih berdiri mematung, ketika tersuruk-suruk Khalifah Umar Ibnul Khattab berjuang memikul karung gandum itu. Angin berhembus. Membelai tanah Arab yang dilanda paceklik.

Merajut Benang-benang Ukhuwah Islamiyah

Posted by ldkmtsapp On 5/27/2011 11:04:00 AM

By:Ubaidillah Al-Farabi

Kata pepatah, nyari musuh seribu gampang, tapi nyari teman satu aja susahnya minta ampun. Bener lho. Coba, kalo kita nyari musuh, bisa dari hal-hal sepele. Misalnya, ngelempar batu kepada setiap orang yang lewat. Itu sih, dijamin kamu banyak dimusuhi orang sekampung dalam waktu cepat. Tapi sekarang kamu coba nyari teman, apalagi sahabat, belum tentu sehari dapet, lho. Sebab, kalo nyari orang untuk dijadikan teman, apalagi sahabat, butuh waktu untuk adaptasi dalam rangka mengenali karakternya. Bahkan udah dapet sekalipun adakalanya kita sulit menjaga hubungan itu supaya tetep langgeng. Tul nggak?

Nah, ngomongin soal ukhuwah islamiyah, alias persaudaraan Islam, kita jadi kepikiran bahwa harga sebuah persaudaraan itu memang mahal. Bayangkan jika kamu hidup sendiri, selain kesepian, kamu juga nggak ada yang ngingetin kalo kamu berbuat salah. Nggak heran dong kalo kemudian kamu nyaris hidup tanpa bimbingan. Silakan dirasakan sendiri. Bahwa kalo hidup tanpa teman itu gimana rasanya. Duh, menyakitkan banget deh. Jangan dicoba!

Contoh seperti ini bisa dirasakan oleh mereka yang baru masuk ke lingkungan anyar. Tadinya banyak teman untuk ngobrol, curhat, dan bercerita apa saja tentang kehidupan, eh, begitu masuk lingkungan baru, kita jadi kikuk. Untuk menjalin dan membangun hubungan dengan orang-orang baru itu ngak mudah lho. Bahkan butuh waktu yang lumayan lama. Jadi, kalo kita udah bisa berteman, apalagi dalam ikatan Islam, rasanya nggak bisa dibayar dengan uang. Sebesar apapun. Jadi emang ukhuwah islamiyah itu mahal harganya.

BTW, sebetulnya di antara kita udah banyak yang ngeh soal yang satu ini. Jadi, anggap aja tulisan ini sebagai bentuk nasihat untuk ngingetin di antara kita. Sebab, teorinya sih udah pada mahir ya? Praktiknya yang nggak tahu. Ya, namanya juga manusia. Nggak salah dong kalo kita saling mengingatkan. Setuju kan?

Sobat muda muslim, terus terang saja, kita khawatir dengan kondisi saat ini, saat beban kehidupan kian menghimpit kita, hingga nggak jarang di antara kita kudu bersaing untuk mendapatkan kenikmatan dan keindahan hidup ini. Bersaing boleh aja, dan silakan kejar apa yang ingin kita raih dan cita-citakan, tapi jangan sampe deh kalo harus memutuskan tali persaudaraan di antara kita. Jangan mentang-mentang lagi asyik dan getol nyari duit or ngejar cita-cita, eh, sampe mengabaikan persaudaraan Islam yang selama ini kita bangun bersama. Itu sih kebangetan ya?

Jadi, sudahlah susah nyari teman dan sahabat, eh, udah dapet malah kita nggak pandai untuk merawatnya. Sayang banget kan? Itu sebabnya, kita kudu apik untuk menjaganya. Jangan sampe putus di tengah jalan.

Sobat, menjalin ikatan ukhuwah islamiyah itu nikmat banget. Islam menjadi bagian dalam kehidupan kita. Suka duka kita dalam perjuangan menyebarkan dakwah Islam terasa lebih nikmat. Sampe-sampe kalo kita harus berpisah dengan kawan seperjuangan itu terasa begitu menyakitkan. Coba deh, simak nasyid dari Brothers yang judulnya Doa Perpisahan. Di situ ada lirik yang begini bunyinya, “Pertemuan kita di suatu hari/ menitikkan ukhuwah yang sejati/ bersyukurku kehadirat ilahi/ di atas jalinan yang suci. Namun kini perpisahan yang terjadi/ cobaan yang menimpa diri/ bersabarlah di atas suratan/ kutetap pergi jua”

Bahkan, pahit-manis perjuangan saat bersama membela Islam, akan selalu terkenang. Beda banget dengan hubungan pertemanan biasa yang nggak dilandasi dengan Islam. Bener lho. Ukhuwah Islamiyah itu terasa lebih bertenaga dan nikmat, bahkan awet banget.

Bagaimana memulainya?
Sebetulnya nggak terlalu susah, tapi tentu juga nggak terlalu gampang. Meski demikian, kita kudu berani untuk memulainya. Apalagi Allah Swt. udah berpesan kepada kita bahwa: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. al-Hujurât [49]: 10)

Nah, kita ini bersaudara sobat. Jadi, yang disebut sebagai saudara itu bukan semata yang satu darah, alias keluarga dekat. Tapi seluruh kaum muslimin di dunia ini adalah saudara kita. Meski tentunya kita nggak bisa berhubungan dengan leluasa ya? Karena memang terbatasi oleh jarak yang memisahkan kita. Tapi, hati kita dekat lho dengan mereka. Buktinya, ketika kaum muslimin di Afghanistan digempur oleh pasukan Amrik, kita yang di sini merasa kasihan sama mereka. Dan tentunya menanam kebencian kepada Amerika. Itu sebagai tanda bahwa kita masih punya ikatan batin yang sulit untuk diputuskan begitu saja.

Nah, bagaimana memulai untuk menjalin persaudaraan? Kenalan. Seperti kata pepatah, tak kenal maka ta’aruf, eh, tak kenal maka tak sayang. Kalo kita udah kenal dengan seseorang, biasanya kita rada leluasa untuk bicara. Pererat ikatannya dengan sering dateng ke rumahnya, atau jika ada masalah, kamu coba bantu. Jadi memang kitanya yang kudu agresif. Kalo saling ngandelin mah, biasanya lama nyambung. Sebab, kita tahu sendirilah, yang namanya orang baru kenal itu banyak sungkannya.
Insya Allah dari seringnya kita bertemu akan muncul perasaan yang TST, alias tahu sama tahu tentang kondisi masing-masing. Apalagi kalo sama-sama aktivis pengajian, insya Allah itu akan lebih banyak membantu untuk akrab. Cobalah!

Merawat ukhuwah
Memulai memang berat, tapi lebih berat lagi merawatnya. Sebab, orang yang selalu bersama itu bukan tak mungkin muncul gesekan di antara keduanya. Kamu yang sama-sama aktif di Rohis sekolah, bisa juga muncul benih-benih yang bisa merapuhkan ikatan ukhuwah.

Perbedaan pendapat dalam hal-hal yang umum dan mubah bisa saja terjadi. Misalnya, ketua Rohis ingin bikin acara sanlat, sementara anggota Rohis ada yang nggak setuju. Itu, kalo nggak dikelola dengan baik, bisa muncul konflik yang bisa mengancam keutuhan ukhuwah kita.

Jadi gimana dong? Begini, intinya memang kudu bisa saling menjaga perasaan. Boleh berbeda pendapat, tapi jangan sampe berantem. Kalem aja. Toh juga untuk kebaikan bersama. Lagipula adanya konflik itu kan untuk mendewasakan kita. Bukan malah menjadikan kita berpikir seperti anak kecil, yang menganggap bahwa setiap konflik selalu berarti ancaman. Itu salah. Sebab, adakalnya konflik itu justru pertanda ada kepedulian, bukan sebaliknya. Jadi yang terpenting adalah bagaimana kita mampu mengelola konflik itu dengan baik.

Inget lho, itu baru sesama aktivis Rohis. Skalanya masih kecil. Gimana kalo itu harus berhadapan dengan yang lebih luas lagi, misalnya di sekolah dan di lingkungan masyarakat. Wah, di situ menuntut kita untuk ekstra hati-hati dalam bersikap dan mengambil keputusan. Sebab, masalahnya bisa amat njlimet.

Oke deh, kita sih amat yakin bahwa kamu masih bisa sepaham dan sejalan dengan temen-temen satu kelompok pengajian. Tapi adakalanya ketika kita berhadapan dengan teman dari kelompok pengajian lain malah saling sikut, karena, maaf saja, ‘rebutan’ lahan dakwah misalnya. Sayangnya, itu banyak terjadi, lho. Lebih tragis lagi berlangsung turun temurun dengan dibumbui dendam segala. Wah, wah, wah.

Anehnya lagi, seringkali generasi di bawahnya juga ikut-ikutan tanpa tahu kenapa mereka harus seperti itu. Duh, di sini kita sudah kalah. Dan yang tertawa, selain setan, tentunya adalah musuh kita, orang-orang kafir itu. Itu artinya, tugas mereka jadi mudah, karena tinggal ngomporin aja salah satu kelompok dan kemudian menerapkan strategi ‘belah bambu’. Sebagaimana yang sukses dijalankan oleh Belanda saat menjajah kita. Kita bertarung mati-matian. Sementara yang menjadi pemenang adalah penjajah. Keciaaaan deh luh!

Padahal sobat muda muslim, selama masih sesama kaum muslimin, dan jika kemudian dalam perjalanannya muncul konflik karena perbedaan pendapat, jangan langsung musuhan. Nggak baik. Kalo kita musuhan, baik itu diwujudkan dengan adu fisik ataupun perang dingin, padahal itu sesama aktivis Islam, aduh, itu artinya ukhuwah yang selama ini digembar-gemborkan cuma sekadar teori. Praktiknya nol!

Dalam kitab Minhajul Qashidin karya Ibnu Qudamah bahwa Rasulullah saw. mengajarkan kepada kita untuk tidak menyakiti sesama muslim, baik dengan perkataan atau perbuatan, bertawadhu kepada sesama muslim, tidak menyombongkan diri di hadapannya, tidak menggunjing orang lain di hadapannya dan tidak mendengarkan gunjingannya. Juga tidak boleh menghindari (baca: marahan or musuhan) sesama muslim selama lebih dari tiga hari.

Nabi saw. bersabda: ”Tidak diperbolehkan seorang mukmin untuk menghindari mukmin lainnya lebih dari tiga hari. Jika sudah lebih dari tiga hari lalu dia bertemu dengannya, maka hendaklah dia mengucapkan salam kepadanya. Jika dia menjawab salamnya, maka keduanya bersekutu dalam pahala. Jika dia tidak menjawab salamnya, maka yang mengucapkan salam sudah terbebas dari dosa menghindarinya.” (HR Bukhari dan Abu Daud)

Maka, jika ada di antara kita, hanya karena berbeda kelompok pengajian, hanya karena berbeda guru pengajian, atau hanya karena perbedaan kitab yang dikaji, lalu kita memasang kuda-kuda dan siap perang, bahkan banyak kejadian saling mengumbar fitnah, aduh, mengerikan sekali. Sekali lagi, di mana praktik ukhuwah islamiyah yang selama ini dikaji? Apakah nggak ada kesempatan untuk bicara menyamakan persepsi?

Sabda Rasulullah saw : "Jangan kamu saling dengki dan iri, dan jangan pula mengungkit keburukan orang lain. Jangan saling benci dan jangan saling bermusuhan, serta jangan saling menawar lebih tinggi atas penawaran yang lain. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, dengan tidak mendzaliminya, tidak mengecewakannya, tidak membohonginya, dan tidak merendahkannya. Letak takwa ada di sini (Nabi saw menunjuk ke dada beliau, sampai diulang tiga kali). Seorang patut dinilai buruk bila merendahkan sudaranya yang muslim. Seorang muslim haram menumpahkan darah, merampas harta, dan menodai kehormatan muslim lainnya" (HR Muslim)

Bela Islam, hancurkan kekufuran!
Sobat muda muslim, udah saatnya kita memantapkan barisan. Meski di antara kita beragam kelompok pengajian, tapi bukan berarti lahan subur untuk permusuhan. Sebaliknya, kita jadikan sebagai kekuatan. Uslub (cara) dalam berdakwah boleh berbeda selama itu memang hal-hal yang mubah. Silakan saja. Bahkan seharusnya saling melengkapi. Sebab, yang penting adalah tujuan kita sama, yakni untuk membela Islam dan menghancurkan kekufuran.

Malu dong dilihat sama orang awam, masak para aktivis Islamnya berantem melulu, perang dingin melulu. Kapan mikirin umatnya? Kapan belain Islam dan umatnya? Kalo ‘berantem’ terus, bukan mustahil kan kalo umat malah nggak simpati dengan dakwah Islam.

Tapi jika kita bersatu dalam tujuan, insya Allah akan memberikan nuansa sejuk dan menakutkan orang-orang kafir. Pantesnya memang begitu. Kita bersaudara, sementara Amerika dan para begundalnya yang memerangi Islam adalah musuh. Ya, kita teladani saja bagaimana Rasulullah saw. bersikap kepada kaum muslimin dan sikapnya kepada orang-orang kafir. Allah Swt. menggambarkan dalam firman-Nya: "Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka," (TQS al-Fath [48]: 29)

Oke, mulai sekarang, rajut benang ukhuwah di antara kita, dan kita jaga bersama agar orang-orang yang membenci Islam gentar menghadapi keutuhan persaudaraan kita. Mereka takut lho kalo kita bersatu. Siap kan??

Celupan Warna Ilahi

Posted by ldkmtsapp On 5/27/2011 10:59:00 AM
“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya dari pada Allah? dan Hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.” (QS. Al Baqarah 138)


Bagaikan kain putih yang telah terkena beberapa noda, pribadi-pribadi mukmin kemudian dicuci dengan syahadat yang mereka ikrarkan. Allah kemudian memberi warna dengan celupanNya, celupan warna dengan citarasa illahi yang Maha Tinggi. Jika sang hamba terus menjaga amalan wajibnya, kemudian ia mendekatkan diri dengan amalan sunnah dan nafilahnya, maka celupan warna itu menjadi gerak hidup yang memancarkan kemuliaan dan keagungan.

"...Tidaklah hamba-hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku sukai dibanding hal-hal yang Aku wajibkan. Dan hambaKu akan terus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan nafilah, sampai Aku mencintainya. Maka, apabila aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengaran dimana ia mendengar dengannya. Aku akan menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya. Aku akan menjadi tangan dimana ia bertindak dengannya, dan Aku akan menjadi kaki dimana ia berjalan dengannya..." (HR Bukhari, dari Abu Hurairah)

Tentang warna warni itu? Ya. Islam tidak menghapus karakter-karakter khas dari pribadi pemeluknya yang tidak bertentangan dengan aqidah. Islam justru membingkainya menjadi kemuliaan karakter yang menyejarah. Bahkan Rasulullah mengatakan, “Khiyaarukum fil jahiliyah, khiyaarukum fil Islam... Orang terpilih kalian di masa jahiliyah akan menjadi orang terpilih pula di masa Islamnya.”

Para sahabat adalah figur-figur menarik yang penuh warna. Menggambarkan sosok mereka sebagai manusia biasa, namun ada kemuliaan yang senantiasa terukir dalam ke-biasa-annya itu.

Ada orang-orang besar dengan gelar besar. Tetapi kebesaran itu bermula dari satu prinsip yang dipegang teguh. Satu saja, kecil saja. Tetapi istiqamah. Abu Bakar Ash Shidiq. Benar, membenarkan, dan dibenarkan. Mengapa? Karena teguh untuk yakin pada apa yang berasal dari sisi Allah dan RasulNya. Maka keyakinan itu menjadi sesuatu yang sangat besar, “Andaikan iman seluruh manusia ditimbang pada suatu dacing dan iman Abu Bakar pada dacing yang lain, niscaya iman Abu Bakar lebih berat.” Subhanallah!

Umar Al-Faruq. Ia, sosok yang tak pernah menyembunyikan perasaannya. Jujur pada dirinya, jujur pada Allah, jujur pada manusia. Blak-blakkan, keras, tak kenal takut. “Bukankah kita berada diatas kebenaran? Bukankah mereka beradar diatas kebathilan? Bukankah kalau kita mati, kita masuk surga sedang mereka masuk neraka?” Maka bermulalah aksi-aksi besar kaum muslimin dari Umar, ba’dallah. Da’wah terang-terangan, show of force di Ka’bah, hijrah terang-terangan, dan gemeretaknya gigi orang kafir dan orang munafik. Ia keras. Sangat keras. Tetapi ada saat dimana ialah manusia terlembut; saat memimpin. Maka benarlah kata-kata Ibnu Mas’ud, “Islamnya Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat bagi orang beriman.”

Ustman Dzun Nurain, si pemalu berakhlak mulia. Malu tak hanya pada manusia, tetapi lebih dari itu, pada Allah. Mandinya Ustman tidak dilakukan kecuali dalam rumah yang terkunci rapat, tertutup semua lubangnya, di kamar yang terlindung dan terkunci, dalam sebuah bilik rapat di kamar itu, dan dipasang selubung kain yang tinggi. Itupun, Ustman masih tak bisa menegakkan punggung karena rasa malu. Ia selalu malu pada Allah. Ia malu, jika nikmat-nikmat Allah tak ia nafkahkan di jalanNya. Maka ribuan unta menyertai perang Tabuk. Ia malu, jika ia kenyang sementara penduduk Madinah ditimpa peceklik. Maka 1000 unta penuh muatan ia bagikan gratis. Ia malu, jika ia minum air sejuk sementara penduduk Madinah meminum air bacin. Maka dibelinyalah sumur Raumah, lalu ia wakafkan. “Tidak akan membahayakan Ustman”, sabda sang Nabi, “Apapun yang dia lakukan setelah hari ini.” Dan Ustman semakin merasa malu..

Ali yang ceria. Ceria mengajarinya keberanian untuk tidur menggantikan Rasulullah di saat teror pembunuhan mengepung kediaman beliau yang kecil. Ceria mengajarinya berlari-lari menyusur padang pasir sejauh 400 km untuk hijrah seorang diri dalam kejaran musuh. Ceria mengajarinya berolok-olok pada Amir bin Abdu Wuud, jagoan Quraisy yang menantang perang tanding dalam peristiwa Khandaq. Dan saat tubuh yang besarnya dua kali lipat dirinya itu jatuh terbelah, kaum muslimin pun bertakbir gembira. Dan ia, tetap ceria. Ceria mengajarinya untuk asyik belajar, maka ia menjadi pintu kota ilmu. Ceria -saat sakit mata- membuatnya menjadi pemegang panji penaklukan Khaibar, maka jadilah ia pemegang panji yang mencintai dan dicintai oleh Allah dan RasulNya.

Abu Dujanah memang congkak, tapi ia bingkai kecongkakannya dalam jihad menghadapi musuh-musuh Allah sehingga ia mulia dengan kecongkakannya. Ikat kepala merah, langkah yang angkuh, jalan yang penuh gaya, membuat Rasulullah berkomentar, “Allah membenci yang seperti ini kecuali dalam peperangan di jalanNya!”. Akhirnya, Abu Dujanah meraih kemulian yang ia nantikan, sambutan bidadari surga.

Ada Abu Ubaidah kepercayaan umat ini. Seperti apa orangnya? Rapi jali! Pandai mengadministrasi, cerdas dan adil. Sangat dipercaya, sampai orang-orang Romawi yang beragama Nashrani merindukannanya. Sangat dipercaya, sampai Umar kehabisan akal untuk memintanya keluar dari kota berwabah. Sangat dipercaya, maka begitu sulit mencari penggantinya mengurus Baitul Maal. Ada Az Zubair hawari Rasulullah. Sebuah potret kesetiaan. Dan Thalhah yang perwira, perisai hidup Rasulullah yang di tubuhnya ada tujuh puluh sayatan pedang, hunjaman tombak, dan tusukan anak panah. Maka jadilah ia, kata Rasulullah, seorang syahid yang masih berjalan di muka bumi.

Ada orang-orang besar dengan gelar besar. Ada Khalid, pedang Allah yang senantiasa terhunus. Maka sering, dengan kudanya ia membelah barisan musuh sendiri. Ia pedang Allah, maka tiga belas pedang patah di tangannya pada perang Mu’tah. Ia pedang Allah, yang memang hanya hafal sedikit ayat. Tetapi seluruh bagian tubuhnya yang penuh luka akan menjadi saksi dihadapan Allah, meski ia mati di ranjang. Ada Hudzaifah, pemegang rahasia-rahasia Rasulullah. Maka ialah intelejen paling gemilang dalam sejarah, yang duduk di hadapan Abu Sofyan, pemimpin musuh. Maka ketika pada Rasulullah manusia bertanya tentang amal-amal yang harus dilakukan, ia bertanya tentang laku-laku yang harus dijauhi. Ia, manusia yang lisannya tak bisa dipaksa berbicara, meski oleh Umar sahabatnya. Ia, pemegang rahasia-rahasia.

Ada lagi yang agung dalam gelar kematiannya. Hamzah penghulu syuhada, Ja’far pemilik dua sayap yang terbang kian kemari di surga, Abdullah bin Rawahah yang ranjangnya terbang menghadap Rabbnya. Sa’ad bin Mu’adz yang kenaikan ruhnya membuat ‘Arsyi Allah berguncang, dan Hanzhalah yang dimandikan malaikat.

Ada yang mulia dengan perbuatannya. Usaid bin Hudhair yang tilawahnya didengarkan malaikat, Ibnu Mas’ud yang qiraatnya seperti saat Al-Qur’an diturunkan, Abdurahman bin Auf yang diberkahi dalam shadaqah dan simpanannya, keluarga Abu Thalhah yang membuat Allah takjub, dan Ukasyah yang ingin bersentuh kulit dunia akhirat dengan Rasulullah.

Ada yang pernah berbuat dosa, tapi ia jujur! Ma'iz mengakui perzinaannya, meminta rajam untuk dirinya, sampai Rasulullah mengatakan, "Jika taubatnya dibagi untuk seluruh penduduk Madinah, niscaya mencukupi bagi mereka."

Mereka, manusia-manusia biasa yang istiqamah dengan potensi kebaikan yang dimilikinya. Kecenderungan-kecenderungan memang berbeda. Dan jadilah itu warna-warna. Ada canda yang mereka lakukan, sampai saling lempar semangka suatu ketika. Tapi periwayat hadits ini berkomentar, “Mereka adalah laki-laki dalam urusan-urusannya!” Ya, mereka tahu kapan saatnya lempar semangka, dan kapan saatnya lempar lembing untuk menegakkan agama Allah.

Alangkah indah hari-hari mereka. Mari kita berdoa, sebagai orang-orang yang datang sesudah mereka...

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." (QS. Al Hasyr 10)

Menjadi muslim adalah menjadi kain putih. Lalu Allah mencelupnya menjadi warna ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan cinta, rahmat bagi semesta alam. Aku jadi rindu pada pelangi itu, pelangi yang memancarkan celupan warna Ilahi, wahai Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang..

(Dikutip dari buku, “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim”, Salim A. Fillah, dengan sedikit perubahan)

Fenomena Metamorfosa Berhala Kupu-kupu

Posted by ldkmtsapp On 5/27/2011 09:24:00 AM
By:Ik4one_As5dura



Ada
suatu aksioma klasik d
alam peradaban Islam yang diformulasikan oleh Abu Bakar Ash Shiddiq, khalifah pertama. Menurut beliau, jika pasar memenangi masjid, maka masjid akan mati. Tapi jika masjid memenangi pasar, maka pasar akan hidup. Maka di antara misi peradaban Islam adalah menjaga agar masjid memenangi pasar, karena itu berarti juga menjaga kehidupan pasar. Misi itu kini kelabu, karena pasar telah memenangi masjid. Pasar-pasar dan mall-malll menjadi tempat peribadatan baru yang dikunjungi setiap malam atau akhir minggu.(dikutip dari buku Salim A. Fillah, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim,Berhala Kupu-Kupu)

Masjid adalah simbol peradaban Islam. Jika masjid hidup, maka sekitarnya akan hidup, namun jika sekitarnya lebih hidup dan lebih dipentingkan, masjid akan meredup dan akhirnya mati. Masjid adalah tempat mulia, tempat ibadah umat Islam. Bahkan orang non-muslim pun tahu itu. Salah satu dari mereka pernah menyatakan heran melihat seorang muslim tapi kok tidak pernah terlihat shalat di masjid? Aku pun tersadar, syiar Islam itu sudah redup, bahkan mungkin tidak lama lagi akan mati dalam genggaman sekulerisme dan kapitalisme. Shalat adalah simbol tegaknya pilar Islam, jika umatnya tidak shalat maka hancurlah Islam.

Berhala-berhala sekan berlomba untuk merubah wujudnya agar tampil lebih elegan diputaran zaman. Ada yang tak banyak merubah dirinya seperti penyembahan benda angkasa. Penyembahan bintang dan benda angkasa hanya memindah tempat ibadahnya ke halaman tabloid dan majalah. Ia berganti nama baru: zodiak dan horoskop.

Ada juga yang nyaris sempurna metamorfosisnya. Inilah berhala kupu-kupu. Dunia sedang menyaksikan Da'wah agama paganisme konsumelarisme melalui iklan di televisi. Dan setiap waktu berbondonglah seruan itu menuju tempat-tempat ibadah elegan yang kini menjamur sampai pinggir kota: Mall-mall megah. Tanpa kita sadari pemikiran barat telah memalingkan wajah kita ke kiblat Westernisasi secara halus dan perlahan-lahan.
Well, menurutku ini sangat kontradiktif dengan salah satu misi jurusan Sistem Informasi yang tertulis ingin “menghasilkan mahasiswa yang bermoral dan beretika.” Bagaimana mereka menerapkan moral ketika agama yang diyakininya mengajarkannya akhlak yang baik tidak dia ikuti? Bagaimana mereka dikatakan beretika saat lingkungannya yang membutuhkan kepeduliannya tidak dia perhatikan? Juga aku mendengar ciri #1 The Winner (sebutan anggota JSI atau GengSI) adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan aku iri melihat persis di seberangnya, tangga menuju lantai dua sedang dibangun. Sedangkan tempat shalat ini seperti tidak diakui lagi sebagai “tangga” menuju kehidupan akhirat mereka yang kekal dan bahagia.
Aku melihatnya sebagai krisis keimanan yang nyata. Jalan materialisme ditempuh dan visi manusia semakin pendek sebatas kehidupan duniawi belaka. Tidak ada sentuhan spiritualisme. Ruh kita semakin kosong. Kebahagiaan diukur dalam banyaknya materi dan emotional rewards, tapi ketika dihadapkan pada kematian yang harus dipersiapkan, mereka terdiam. Apa yang sudah kita persiapkan?
Jadwal shalat pun sering ditunda-tunda, dikalahkan oleh jadwal kuliah. Seakan saat kuliah, kematian tidak akan menghampiri kita.
Statistik menunjukkan mahasiswa, dosen, dan karyawan sebagian besar beragama Islam. Namun jumlah itu tidak sesuai dengan jumlah mereka yang pernah atau sering terlihat shalat di mushalla/masjid dikampus tersebut. Jumlah itu semakin kecil lagi jika menghitung yang cukup sering shalat berjamaah di awal waktu. Aku merinding jika ternyata mereka memilih untuk shalat di rumah atau di ruangannya saja, atau bahkan tidak shalat dikarenakan tidak nyamannya kondisi mushalla ini. Aku merasa bertanggung jawab sebagai seorang muslim untuk menjaga Rumah Allah tapi aku belum punya kekuatan cukup besar dan merasa tidak mempunyai kekuasaan untuk itu. Ketika waktu untuk shalat Maghrib satu jam tiba, sering para penggunanya berbondong-bondong untuk shalat, tapi sayangnya tempatnya tidak cukup hingga perlu tiga hingga lima kali gelombang shalat berjama’ah dilakukan. Mushalla itu butuh dilebarkan juga.
Yang terburuk adalah kejadian hilangnya barang-barang di mushalla. Sangat menyedihkan. Beberapa kali lemari mukena hasil urunan jama’ah raib. Lusinan buku yang seharusnya bisa dibaca hilang. Dan setiap semester mesti ada berita kehilangan tas berisi laptop. Sedih sekali rasanya jika orang yang kehilangan itu tidak mau shalat di mushalla lagi gara-gara kejadian itu. Mungkin sebuah pintu, loker dan kunci bisa membuat para pencuri berpikir dua kali.
Semoga mereka yang membaca moto mushalla yang terpampang di bawah tanda namanya itu menghayati benar: “Negeri ini lebih butuh orang-orang yang bertaqwa daripada sekedar pintar berteknologi.” Dan merupakan salah satu bentuk ketakwaan jika seorang muslim mau memakmurkan masjid-masjid Allah. Membangunnya dan sekali-kali ikut shalat berjama’ah di dalamnya.
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. At-Taubah 9 : 18)

Semoga kita semua termasuk dari salah satu kriteria orang-orang yang disebut dalam Ayat cinta Allah kepada hambanya diatas. Hanya Allah tujuan kita, Rasulullah Teladan kita, Al-Qur'an Pedoman kita, Jihad adalah jalan juang kita, mati dijalan Allah adalah cita-cita kita tertinggi.

Semangatlah wahai Para Perindu Syurga. Titah perjuangan kecilmu hari ini, adalah bias cahaya peradaban islam dihari esok.

Karena Surga Itu Manis

Posted by ldkmtsapp On 5/19/2011 01:44:00 AM
O. Solihin


Jika ditanyakan kepada manusia, pilih surga atau neraka? Dengan informasi yang seadanya, dengan bekal informasi bahwa surga itu nikmat dan neraka itu menyeramkan, maka dengan lantang pasti akan memilih surga. Tapi, tahukah kita bahwa jalan menuju surga itu sulit dan jalan menuju neraka begitu mudah?

Dari Abu Hurairah ra., sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda (yang artinya): “Ketika Allah menciptakan surga, Dia berfirman kepada Jibril, ‘Pergi dan lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Jibril kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang surga itu) kecuali dia (ingin) memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (surga) dengan kesulitan-kesulitan (untuk mencapainya) dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (surga itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Tuhanku, demi keperkasaanMu, sungguh aku khawatir tidak seorang pun yang (dapat) memasukinya’.”

Rasulullah saw. juga bersabda: “Tatkala Allah Ta’ala menciptakan neraka, Dia berfirman, ‘Wahai Jibril! Pergi (lalu) lihatlah (neraka itu)’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. (Jibril) kembali seraya berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemuliaanMu, tidak seorang pun mendengar (tentang neraka itu) kecuai ia tidak berkeinginan untuk memasukinya’. Kemudian Allah Swt. mengelilingi (neraka itu) dengan keinginan-keinginan syahwati dan berfirman kepada Jibril, ‘Wahai Jibril! Pergi dan lihatlah neraka itu’. Jibril pun pergi untuk melihatnya. Kemudian ia kembali dan berkata, ‘Wahai Tuhanku, demi keperkasaanMu dan kemualiaanMu, sungguh aku khawatir bahwa tidak akan tersisa seorang pun kecuali akan memasukinya’.” (dalam penjelasan kitab Sunan Abu Daud, hlm. 13-14)

Selama hidup adalah ujian

Surga dan neraka adalah ganjaran bagi manusia sesuai dengan perbuatan atau amalannya selama di dunia. Bro en Sis, di sekolah atau di tempat kerja kita bisa berprestasi dalam belajar dan karir kita. Mereka yang berprestasi akan diganjar dengan berbagai macam penghargaan dan fasilitas yang baik. Allah Swt. menjadikan surga sebagai ganjaran bagi manusia yang bertakwa, dan neraka menjadi ganjaran yang pas bagi manusia yang membangkang perintahNya. Dan, perlu ditekankan bahwa hidup di dunia ini setiap detiknya adalah ujian. Ujian yang hasilnya akan dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah kelak di akhirat. Itu artinya, setiap hari kita harus menerima dan mengatasi berbagai ujian yang diberikan oleh Allah Swt.

Jangan bayangkan bahwa ujian selalu hal yang pasti sulit dan menderita, adakalanya ujian yang diberikan Allah Ta’ala justru kita rasakan sebagai nikmat dan istimewa. Memang benar, ujian yang mendera kita berupa rasa sakit dan kesulitan ekonomi seringkali membuat kita harus lebih banyak bersabar dan berdoa untuk tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekafiran. Tapi, jangan bayangkan pula jika kita diberikan kesehatan, kekayaan dan kekuasaan adalah semata sebagai kebahagiaan, karena sejatinya itu juga merupakan ujian dari Allah.

Nikmat kesehatan yang diberikan Allah Swt itu apakah akan mengantarkan kita untuk bersyukur atau malah sebaliknya, untuk ingkar kepada Allah? Nikmat kekayaan dan kekuasaan yang kita rasakan, apakah akan membuat kita bersyukur atau malah sombong dan dengan bebas menggunakan harta yang kita miliki untuk suka-suka tanpa aturan syariat Islam? Dengan kenyataan seperti ini, maka pantas jika kesehatan, kekayaan dan kekuasaan pun termasuk bagian dari ujian yang Allah berikan. Bergantung manusianya, apakah akan bersyukur atau malah kufur. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih.” (QS Ibrahim [14]: 7)

Memang banyak orang yang tak tahan dengan penyakit yang diderita dan kemiskinan yang mendera mereka sehingga mengambil jalan pintas untuk bunuh diri demi mengakhiri hidupnya yang menanggung rasa sakit yang berat, atau tega berbuat maksiat dengan cara menjarah harta yang bukan miliknya demi memenuhi kehidupan ekenominya yang tak kunjung menunjukkan grafik yang meningkat

Begitu pun bagi sebagian dari kita banyak yang tidak tahan menghadapi ujian berupa kesehatan, harta yang banyak dan juga kekuasaan. Jangan-jangan, kesehatan tubuh dan kekuasaan ternyata malah membuat kita merasa sombong, sebagaimana halnya dengan Fir’aun yang menganggap dirinya sebagai Tuhan, karena selama hidupnya memang dia nyaris tak pernah sakit berat ditambah pula dia memang punya tahta dan harta. Klop. Fir’aun jadi sombong. Sehingga ketika Musa mengajaknya untuk beriman kepada Allah, Fir’aun malah mendustakannya dan bahkan mendurhakainya. Allah Swt membeberkan kisah ini dalam firmanNya (yang artinya): “dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepadaNya?”. Lalu Musa memperlihatkan kepadanya mukjizat yang besar. Tetapi Fir’aun mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia berpaling seraya berusaha menantang (Musa). Maka dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya) lalu berseru memanggil kaumnya. (Seraya) berkata: “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).” (QS an-Naazi’aat [79]: 18-26)

Ini kian meneguhkan bahwa selama kita masih hidup, ujian akan datang menghampiri kita selama itu. Karena hidup itu sendiri adalah ujian. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dan menjadikan kehidupan ini lebih bermakna berlandaskan keimanan kepada Allah Swt. Dzat yang telah menciptakan kita dan seluruh alam ini, termasuk surga dan neraka.

Itu sebabnya, jika kita ingin masuk surga, ada jalan yang harus kita lalui. Meski banyak rintangan, bukan berarti kita mundur untuk melaluinya. Karena surga begitu manis. Jangan pula tergoda memilih jalan yang bertabur syahwat meski itu sangat menyenangkan, karena pada akhirnya akan mengantarkan kita menuju neraka. Semua sudah dalam kekuasaan kita, apakah lebih memilih untuk masuk surga atau neraka. Dengan adanya pilihan tempat kembali di akhirat kelak, ini membuktikan bahwa dunia ini memang ujian dan Allah Swt. hanya akan memberikan tempat yang layak kepada mereka yang berhasil mengikuti petunjukNya. Sebaliknya Allah akan memberikan tempat yang buruk, yakni neraka bagi siapa saja yang menentangNya dan mendurhakaiNya.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadist yang diriwayatkan Abu Said al-Khudri ra bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Surga dan neraka mengajukan protes. Surga berkata, ‘Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam surga hanya orang-orang yang lemah dan orang-orang kelas gembel?’ Neraka berkata, ‘Ya Tuhanku, kenapa yang masuk ke dalam neraka ini hanya orang-orang yang kejam dan sombong?’ Allah berkata, ‘Surga, engkau adalah rahmatKu yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Dan neraka, engkau adalah siksaKu yang Aku berikan denganmu siapa saja yang Aku kehendaki. Setiap masing-masing dari kalian mempunyai penghuni’.” (Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Tamasya ke Surga, hlm. 15)

Kumpulkan pahala berharap surga

Surga adalah tempat yang eksklusif alias hanya disediakan dan diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Tidak semua manusia bisa masuk ke surga. Itu artinya, untuk mendapatkan ‘tiket’ ke surga harus mengikuti syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah Swt. Sang Pemilik surga itu sendiri. Dan, tentunya Allah Swt. juga berhak dan berkuasa penuh untuk memasukkan manusia ke dalam neraka. Jangan khawatir, Allah Swt. tak mungkin salah dalam mengkalkulasi amalan kita. Catet, Bro.

Bro en Sis, ketika begitu banyak informasi tentang keindahan dan kenikmatan yang ditawarkan surga sebagaimana janji Allah bagi hamba-hambaNya yang beriman, pantas bagi kita untuk segera dengan semangat menjadi pribadi-pribadi yang terbaik dalam iman, ilmu dan amal shalih. Tentu, agar Allah Swt. sayang dan cinta kepada kita semua dan memasukan kita ke dalam surgaNya. Insya Allah.

Kita berharap, berdoa, dan berusaha sekuat mungkin agar kita bisa meretas jalan menuju surga dengan mudah dan sukses. Semoga Allah Swt. menanamkan keimanan dan ketakwaan yang kokoh dalam diri kita sebagaimana yang Allah berikan kepada Muhammad saw. dan para sahabatnya. Semoga Allah menancapkan keberanian yang hebat dalam membela Islam sebagaimana telah Allah tancapkan keberanian membela Islam kepada para pejuang Perang Badar. Semoga Allah memberikan kemenangan kepada dakwah Islam yang kita gelorakan saat ini, sebagaimana kemenangan yang telah Allah berikan kepada Muhammad saw. dan para sahabatnya di setiap peperangan yang dimenangkannya.

Semoga kita menjadi hamba-hambaNya yang pandai bersyukur dan senantiasa gemar melakukan amal shalih. Semua manusia menginginkan surga jika kenikmatannya begitu luas, indah, dan menyenangkan. Tapi, hanya manusia pilihan saja yang bisa meraihnya. Semoga kita adalah manusia pilihan Allah yang bisa menikmati surgaNya. Amin.

Yuk, sebagai anak yang aktif ngaji dan aktif dakwah wajar dong inginkan surga. Karena itu adalah memang janji Allah Swt. untuk mereka yang beriman dan beramal shalih ketika di dunia. Meski kini kehidupan yang kita jalani pahit terasa, insya Allah pada akhirnya akan berbuah manis. Semangat,Bro! [dimuat di Buletin Remaja gaulislam, edisi 159/tahun ke-4, 8 Nopember 2010]

Mengenal Ciri-ciri Gerakan NII

Posted by ldkmtsapp On 5/03/2011 07:22:00 AM

Sekarang media massa hingar bingar dengan peristiwa dialami anak-anak muda yang "hilang", dan kemudian diketemukan dalam keadaan seperti "linglung", serta menurut pengakuan mereka, mereka mengalami pencucian otak. Benarkah mereka yang "hilang" itu menjadi korban dari proses cuci otak yang dilakukan oleh NII?

Berbagai kajian yang pernah diterbitkan media massa Islam, menilai ada NII yang menyimpang jauh dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah, dan disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan Pondok Pesantren Al-Zaytun, Indramayu, Jawa Barat.

Pondok pesantren modern ini berdiri pada akhir tahun 1990-an, dan diresmikan oleh Presiden RI B. J. Habibie. Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Abu Toto alias Syeikh Panji Gumilang itu, bukan hanya diresmikan oleh Presiden BJ Habibie semata, tetapi sejumlah tokoh penting pernah berkunjung dan memberikan bantuan kepada Pesantren Az-Zaytun, konon termasuk diantaranya sejumlah tokoh penting militer dan intelijen, dan bahkan diisukan mendapat suntikan dana dari Pemerintah Kerajaan Inggris.

Sampai sekarang media massa meributkan tentang NII dan dikaitkan dengan Az-Zaytun, tetapi tidak pernah ada tindakan apapun terhadap pesantren dan pengasuhnya. Seakan Pesantren itu kebal dari aparat dan hukum. Sementara itu, orang-orang yang mempunyai kaitan dengan NII, banyak yang kemudian menjadi tersangka atau dipenjara dalam waktu tertentu. Entah dituduh sebagai teroris atau melakukan gerakan yang dianggap menjadi ancaman keamanan negara.

Berbagai media massa Islam menampilkan hasil-hasil penelitian, analisis para pakar, hingga kesaksian para mantan santri pesantren tersebut sebagai bukti “kesesatan” Al-Zaytun dengan NII "jadi-jadiannya”.

Banyak yang mengatakan bahwa yang muncul ke permukaan yang menjadi fenomena sekarang ini, dan berlanjut menjadi sebuah permasalahan pelik, merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh pihak tertentu untuk menghancurkan umat Islam di Indonesia. Seandainya, argumentasi ini benar, wajar bagi umat Islam untuk menjadikan pihak-pihak yang terkait dengan gerakan tersebut sebagai ancaman serius yang selalu harus diwaspadai.

Sebuah media menyebutkan ciri-ciri kelompok bawah tanah yang mengatasnamakan NII tersebut. Berikut ini adalah sebagian ciri-cirinya:

  1. Dalam mendakwahi calonnya, mata sang calon ditutup rapat, dan baru akan dibuka ketika mereka sampai ke tempat tujuan.
  2. Para calon yang akan mereka dakwahi rata-rata memiliki ilmu keagamaan yang relatif rendah, bahkan dapat dibilang tidak memiliki ilmu agama. Sehingga, para calon dengan mudah dijejali omongan-omongan yang menurut mereka adalah omongan tentang Dinul Islam. Padahal, kebanyakan akal merekalah yang berbicara, dan bukan Dinul Islam yang mereka ungkapkan.
  3. Calon utama mereka adalah orang-orang yang memiliki harta yang berlebihan, atau yang orang tuanya berharta lebih, anak-anak orang kaya yang jauh dari keagamaan, sehingga yang terjadi adalah penyedotan uang para calon dengan dalih demi dakwah Islam. Tetapi semua itu, hanya sebagai alat (sarana) untuk menyedot uang.
  4. Pola dakwah yang relatif singkat, hanya kurang lebih tiga kali pertemuan, setelah itu, sang calon dimasukkan ke dalam keanggotaan mereka. Sehingga, yang terkesan adalah pemaksaan ideologi, bukan lagi keikhlasan. Dan, rata-rata, para calon memiliki kadar keagamaan yang sangat rendah. Selama hari terakhir pendakwahan, sang calon dipaksa dengan dijejali ayat-ayat yang mereka terjemahkan seenaknya, hingga sang calon mengatakan siap dibai'at.
  5. Ketika sang calon akan dibai'at, dia harus menyerahkan uang yang mereka namakan dengan uang penyucian jiwa. Besar uang yang harus diberikan adalah Rp 250.000 ke atas. Jika sang calon tidak mampu saat itu, maka infaq itu menjadi hutang sang calon yang wajib dibayar.
  6. Tidak mewajibkan menutup aurat bagi anggota wanitanya dengan alasan kahfi.
  7. Tidak mewajibkan shalat lima waktu bagi para anggotanya dengan alasan belum futuh (masih fatrah Makkah). Padahal, mereka mengaku telah berada dalam Madinah. Seandainya mereka tahu bahwa selama di Madinah-lah justru Rasulullah saw. benar-benar menerapkan syari'at Islam.
  8. Sholat lima waktu mereka ibaratkan dengan doa dan dakwah. Sehingga, jika mereka sedang berdakwah, maka saat itulah mereka anggap sedang mendirikan shalat.
  9. Shalat Jum'at diibaratkan dengan rapat/syuro. Sehingga, pada saat mereka rapat, maka saat itu pula mereka anggap sedang mendirikan shalat Jum'at.
  10. Untuk pemula, mereka diperbolehkan shalat yang dilaksanakan dalam satu waktu untuk lima waktu shalat.
  11. Infaq yang dipaksakan per periode (per-bulan), sehingga menjadi hutang yang wajib dibayar bagi yang tidak mampu berinfaq.
  12. Adanya qiradh (uang yang dikeluarkan untuk dijadikan modal usaha)yang diwajibkan walaupun anggota tak memiliki uang, bila perlu berhutang kepada kelompoknya. Pembagian bagi hasil dari qiradh yang mereka janjikan tak kunjung datang. Jika diminta tentang pembagian hasil bagi itu, mereka menjawabnya dengan ayat Al Qur'an sedemikian rupa sehingga upaya meminta bagi hasil itu menjadi hilang.
  13. Zakat yang tidak sesuai dengan syari'at Islam. Takaran yang terlalu melebihi dari yang semestinya. Mereka menyejajarkan sang calon dengan sahabat Abu Bakar dengan menafikan syari'at yang sesungguhnya.
  14. Tidak adanya mustahik di kalangan mereka, sehingga bagi mereka yang tak mampu makan sekalipun, wajib membayar zakat/infaq yang besarnya sebanding dengan dana untuk makan sebulan. Bahkan, mereka masih saja memaksa pengikutnya untuk mengeluarkan 'infaq'. Padahal, pengikutnya itu dalam keadaan kelaparan.
  15. Belum berlakunya syari'at Islam di kalangan mereka, sehingga perbuatan apapun tidak mendapatkan hukuman.
  16. Mengkafirkan orang yang berada di luar kelompoknya, bahkan menganggap halal berzina dengan orang di luar kelompoknya.
  17. Manghalalkan mencuri/mengambil barang milik orang lain.
  18. Menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan, seperti menipu/berbohong, meskipun kepada orang tua sendiri.

Sebuah fenoma seperti puncak gunung es, yang sekarang ini terus berkembang di tengah-tengah masyarakat, dan mempunyai dampak luas dalam kehidupan umat Islam. Dengan stigma yang sangat menganggu, setiap peristiwa yang dikaitkan dengn NII akan selalu berdampak negatif.

Cobalah dipahami dan dipikirkan 18 ciri yang merupakan "metode" gerakan NII, yang akhir-akhir mendapatkan perhatian luas masyarakat. (mh)


http://www.eramuslim.com/berita/nasional/mengenal-ciri-ciri-nii.htm

Blogroll

a

footerwidget1

About

" Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung" (QS.Ali-Imran :104)